inspirational diary


Be Creative, Be Communicative

01 August 2016

Agnis Endi
Creative Director Owl & Foxes

Jika Anda mengira pekerjaan di industri kreatif adalah hal yang mudah, hanya mengandalkan bakat, dan tak butuh keseriusan saat mengerjakannya, maka Anda sebaiknya berbincang dengan Muhammad Agnis Endi Kusmansyah yang akrab disapa Agnis ini. Pria kelahiran 18 September 1979 tersebut akan mengungkapkan berbagai fakta yang sebaliknya.

“Pekerjaan ini membuat saya merasa bodoh setiap hari,” ujar Agnis. Sebagai Creative Director di marketing and communication agency, Agnis bergelut dengan bidang yang berbeda-beda hampir setiap hari—sesuai klien yang dipegangnya. “Hari ini belajar soal beauty, besoknya ekskavator, berikutnya soal KPR,” paparnya seraya memberi contoh. Ya, sebelum membuat sebuah produk komunikasi kreatif bagi kliennya, tentu Agnis dan tim harus terlebih dahulu menyelami bidang industri dari klien tersebut. Bagi Agnis, hal ini menjadi tantangan sekaligus hal yang seru dari pekerjaannya.

Hal lain yang tak kalah seru dalam profesinya menurut Agnis adalah selalu bertemu dengan orang baru, serta menjalin relasi yang sincere dengan klien. Oleh sebab itu, mantan radio announcer ini meyakinkan bahwa dalam bisnisnya ini ‘kreatif’ saja tidak cukup, ‘komunikatif’ juga menjadi poin yang sangat penting. “Pekerja kreatif ataupun seniman bisa membuat hasil karya yang bagus, tapi prosesnya tak berhenti sampai di sana; langkah selanjutnya adalah how to sell it, bagaimana mengkomunikasikan agar hasil karya tersebut laku,” ungkap Agnis.

Bermodalkan pengalaman kerjanya di salah satu perusahaan Marketing/Advertising/Public Relation agency besar, Agnis akhirnya mendirikan agensi bersama 5 orang temannya—dua orang di antaranya merupakan mantan klien. “Bekerja sebagai staf di agensi besar dengan menjalankan bisnis agensi sendiri pastinya berbeda. Saat bekerja di big company, semua sudah ada aturan dan sistem yang harus diikuti. Kalau sekarang lebih dinamis, lebih bebas,” kata Agnis.

Di sisi lain, pria yang telah bekerja selama 10 tahun di agency tersebut mengaku dirinya saat ini harus lebih memerhatikan sisi bisnis ketimbang sebelumnya. “Karena kita as company harus cepat adaptasi dengan perkembangan bisnis kreatif yang shift-nya kencang sekali. Selain itu harus memikirkan bagaimana menggaji karyawan juga, kan?” ujarnya sambil tertawa kecil.

Setali tiga uang dengan kesetiaannya terhadap industri kreatif—khususnya dunia agensi—Agnis juga termasuk pelanggan setia Erha Clinic, yakni sejak tahun 2010. Uniknya, bapak satu orang anak ini mengaku lebih rajin melakukan perawatan kulit ketimbang istrinya sendiri. “Kondisi kulit orang kan berbeda-beda, dan saya sadar betul kulit saya ini ‘bermasalah’, jadi memang harus dirawat supaya nggak rusak parah. Menurut istri, perawatan kulit saya ribet. Hahaha,” ungkap Agnis. “Kenapa dari dulu sampai sekarang saya masih konsultasi ke Erha Clinic dan pakai produk-produk Erha, ya karena saya merasakan ini yang paling cocok. Saya sangat percaya dan respect dengan Erha sebab semuanya terlihat profesional; Erha tahu apa yang mereka lakukan,” tambah pria yang hobi custom motorbike ini dengan lugas.

Penulis: Sonya Tampubolon/ Photo : Riesma Pawestri