inspirational diary


Light Up Your Life

01 July 2017

Susanti Aksar
Owner & CEO PT. Inovasi Inti Investa

Berbekal pengalaman dan networking selama lebih dari 7 tahun bekerja di PT. Phillips, Susanti Aksar mendirikan PT. Inovasi Inti Indonesia sejak September 2016. Perusahaan ini merupakan distributor resmi Panasonic Lighting untuk project segment, juga sebagai consultative sales di lighting yang memberikan edukasi kepada konsumen mengenai lighting atau tata pencahayaan.

Lighting bukan sekadar soal lampu. Pencahayaan merupakan hal penting yang perlu diatur dan dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan. Selain memiliki dampak pada kesehatan mata, lighting juga mempengaruhi mood. “Banyak orang yang belum sadar akan mood lighting, yakni bagaimana pencahayaan dapat menciptakan mood sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, lampu dengan cahaya putih yang terang berguna untuk membangkitkan semangat, sehingga cocok digunakan di ruang kerja maupun ruang meeting. Sedangkan cahaya kekuningan yang agak redup dapat menciptakan suasana yang lebih rileks, cocok untuk pencahayaan di lounge atau cafe,” terang Susanti. Oleh sebab itu, ada pula perusahaan ataupun perorangan yang memilih Dynamic lighting, yakni satu lampu yang bisa diatur warna pencahayaannya. Contohnya, pagi hari dinyalakan warna putih cahayanya dan menjelang sore bisa dinyalakan warna kuning, dan juga dapat diatur tingkat terang dari cahaya tersebut atau disebut juga dimmable.

Sebagai distributor lighting di project, perusahaan yang didirikan Susanti mengerjakan berbagai project, baik proyek segmen commercial maupun proyek segmen government. Salah satu yang tengah ditanganinya adalah proyek pencahayaan non tol di salah satu daerah. “Saya memilih bisnis ini karena memang punya passion untuk mengerjakan project. Selain itu, bisnis lighting juga ‘pemain’-nya tidak banyak,” ungkap Susanti.

Tantangan dalam pekerjaannya, menurut Susanti, adalah dinamika kerja proyek yang begitu tinggi. “24/7 rasanya nggak cukup. Kalau bisa ada 30 jam dalam sehari dan 10 hari dalam seminggu. Hehehe,” ucapnya seraya berseloroh. Tantangan lainnya ialah soal resources di Indonesia untuk industri lighting yang diakui Susanti masih sangat minim, banyak produk yang masih harus impor. “Masalahnya, waktu yang disediakan klien untuk pengerjaan lighting biasanya tidak panjang. Kalau kita harus pesan produk dulu dari luar tentunya makan waktu lama. Untuk mengantisipasinya, kita biasanya pesan duluan—jadi punya stok produk—walau tidak banyak. Bisa dibilang ini faktor risiko dalam bisnis,” jelas Susanti.

Dari berbagai pengalaman yang Susanti miliki selama bekerja di industri lighting, sebuah pencapaian yang paling dibanggakannya adalah kesempatan untuk bekerja bersama Arup Lighting, perusahaan internasional yang memegang berbagai mega project seperti Sydney Opera Housedi Australia serta Burj Al Khalifa di Dubai, Uni Emirate Arab; dalam mengerjakan Value Engineering in Lighting di Indonesian Conference Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.

Meski telah memiliki bisnis project base di bidang lighting, ternyata Susanti juga memiliki impian untuk berbisnis kuliner. “Saya pingin buka restoran Indonesian Food dengan konsep neighborhood resto, yang nyaman untuk ngumpul bareng teman atau duduk-duduk sejenak sepulang menjemput anak dari sekolah,” ungkapnya. Tampaknya impian Susanti ini lahir dari latar belakang keluarga—yakni orangtuanya yang membuka restoran padang. Selain itu, wanita yang hobi membaca novel ini juga memiliki passion terhadap kopi.

Passion Susanti lainnya adalah traveling. Hobi ini sejalan dengan pekerjaan Susanti yang menuntutnya cukup sering bepergian. “Business trip biasanya 2x setahun, sedangkan pribadi bisa 3-4x dalam 1 tahun,” papar wanita kelahiran Jakarta, 7 Januari 1981 ini. Sering traveling, tak membuat Susanti mengabaikan ritual perawatan kulitnya. “Sunblock is a must!” tegasnya. Wanita enerjik tersebut juga mengaku selalu membawa produk-produk perawatan dari Erha lainnya saat bepergian.

Bicara soal Erha, Susanti telah menjadi customer Erha Clinic sejak lama, yakni saat dirinya masih duduk di bangku SMA. “Papa dulu pasiennya Dr. Ronny Handoko di jembatan lima, waktu aku masih SD. Menginjak remaja, kulit makin nggak karuan akibat hormon, saya diajak ke dokter kulit. Saat itu Erha Clinic Kemanggisan mulai buka, perawatan di sana,” jelasnya. Susanti mengakui sempat juga menjajal perawatan kulit di klinik lain dan mencoba produk skincare selain Erha. Akan tetapi, ‘jodoh’ buat kulit Susanti sepertinya hanya Erha, sehingga dirinya selalu kembali ke Erha.

“Sejak dulu memang saya hanya percaya pada dokter untuk perawatan kulit. Not beautician!” pungkas Susanti. Apalagi, lanjutnya, kulit wajah merupakan bagian yang riskan—jangan sampai salah pilih perawatan. “Buat saya, produk Erha yang paling reliable dengan kondisi lingkungan di Indonesia: iklim tropis, panas, udara sudah tercemar dengan kadar timbal relatif tinggi. Selain itu pilihan treatment Erha juga komplit,” ujarnya. Perawatan Photorejuvenation dari lini Signature Line adalah salah satu favorit Susanti. “Setiap habis rejuv rasanya kulit fresh, kenyal, lembut, pokoknya enak banget!” ujarnya dengan mata berbinar.

Sebagai pelanggan lama Erha, Susanti tau betul berbagai kelebihan dan kekurangan Erha. Pesannya untuk kemajuan Erha: jaga selalu standar kualitas Erha Clinic di berbagai tempat, pastikan ada wadah untuk mengajukan keluhan yang mudah diakses customer, serta tingkatkan efektivitas digital marketing.

Penulis: Sonya Tampubolon/ Photo : Riesma Pawestri.