inspirational diary


Practical and Dicipline

01 June 2016

Dara Eka Mutiara
Program Assistant JICA

“Di Jepang, semua serba praktis dan disiplin,” ungkap Dara Eka Mutiara, ketika ditanya hal apa yang paling membuatnya terkesan dengan Negara Sakura tersebut. Diakui oleh Dara, dirinya sudah tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan Jepang sejak masih duduk di bangku SMA. Makanya tak heran bila wanita kelahiran 31 Desember 1987 itu memilih jurusan Sastra Jepang sampai meraih gelar sarjana (S1), serta bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi di Jepang.

Dara akhirnya bertolak ke Jepang untuk mengejar gelar S2 jurusan Hubungan Internasional. Sebelum dapat memulai program perkuliahan, Dara menempuh pendidikan bahasa di TOPA 21, Tokyo. Wanita yang gemar membaca tersebut sempat pulang ke Indonesia ketika ada musibah gempa tsunami besar melanda Jepang. Sayangnya, Dara melewatkan kesempatan apply visa, sehingga tak dapat melanjutkan kuliahnya di Jepang.

Meski impian meraih gelar S2 dari Jepang saat itu pupus, akhirnya Dara berhasil memperoleh pekerjaan yang berhubungan dengan negeri sake tersebut. Bekerja di Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesian Office sejak 2011 lalu, Dara mendapatkan berbagai pengalaman seputar jalinan kerjasama antara negara Jepang dan Indonesia. “JICA merupakan lembaga non profit milik Jepang yang memberikan bantuan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Ada berbagai jenis bantuan yang diberikan, salah satunya yang saya tangani adalah bantuan untuk technical cooperation. JICA memberangkatkan para Pegawai Negeri Sipil untuk training di Jepang,” jelas Dara.

Selain bekerja di perusahaan Jepang, sifat ‘praktis dan disiplin’ yang menjadi ciri khas masyarakat Jepang juga nampaknya diserap oleh Dara dalam kehidupan personalnya. Hal ini dapat terlihat dari pilihan-pilihan yang dibuat oleh wanita penyuka mi ramen tersebut dalam merawat kulitnya.

Dara mulai mencoba melakukan perawatan kulit di Erha Apothecary Senayan City dengan alasan praktis, karena lokasinya tak jauh dari kantor. “Saya sangat bersyukur ada Erha di mal, selain lebih dekat, saat nunggu dokter atau obat pun masih bisa sambil jalan-jalan,” ujarnya. Di sisi lain, setelah berkonsultasi dengan dokter, Dara menjalani ritual perawatan kulit dan regimen produk secara disiplin—sesuai rekomendasi dokternya.

Kedisiplinan Dara merawat kulitnya di Erha pun berbuah manis. Diakui oleh pencinta musik klasik dan jazz tersebut, kondisi kulitnya sudah banyak mengalami improvement. “Kulit terasa lebih sehat, lembap, dan kenyal; juga terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya,” terang Dara. Tak ayal, perubahan positif pada kulit Dara pun memancing perhatian dari keluarga dan teman-temannya. “Banyak teman yang nanya saya pakai produk skincare apa atau perawatan di mana. Bahkan ada teman cowok yang jadi tertarik melakukan perawatan di Erha juga, tapi untuk rambut,” ungkap Dara lebih jauh.    

Merasa percaya diri dengan kulit dan penampilannya saat ini, wanita yang rutin melakukan light peeling setiap 2-3 bulan sekali tersebut mengaku dirinya jarang memakai bedak. “Sering ditanya pakai bedak apa. Ada juga yang berkomentar kalau nggak pakai bedak itu kulit jadi nggak terlindung. Tapi dokter bilang nggak masalah kok tidak pakai bedak, justru bagus karena kulit jadi lebih ringan. Soal perlindungan, yang penting saya selalu pakai sunblock,” pungkas Dara. Wanita yang punya motto hidup be yourself ini mengaku lebih percaya pada dermatolog Erha, dan tidak terusik dengan komentar orang lain.

Kepercayaan Dara terhadap Erha, membuatnya tak ingin berpaling. “So far sih saya sudah nyaman sekali dengan Erha; dengan dokternya, produk-produknya, perawatannya, pelayanan dan keramahannya, juga dengan harganya. Banyak yang bilang perawatan di Erha itu mahal, tapi menurut saya sebanding dengan hasilnya,” tegas Dara.

Penulis: Sonya Tampubolon/ Photo : Riesma Pawestri