inspirational diary


Passion is Created

01 April 2016

M. Riza Perdana Kusuma
Director of Operational & Commercial Angkasa Pura Solusi

Dua puluh tahun berkerja di PT. Garuda Indonesia, tak mengherankan bila Riza Perdana Kusuma merasakan perusahaan tempatnya bernaung dahulu sebagai sebuah tempat belajar yang memberikan pengalaman terbaik. Sosok Riza pun telah dikenal baik di perusahaan tersebut, apalagi dengan berbagai prestasi yang telah ditorehkannya—mulai dari Best Employee of The Year (dari antara 6,000 karyawan), sampai Juara 1 Young Marketer Award versi majalah SWA. Meski begitu, Riza akhirnya memilih untuk move on dari titik kenyamanannya dan ‘bergelut’ dengan tantangan yang baru.

“Awalnya memang saya diajak untuk bekerja di Angkasa Pura Solusi, anak perusahaan dari PT. Angkasa Pura. Namun yang bikin saya tertarik karena untuk menempati posisi ini ada seleksinya. Setelah melewati proses seleksi selama 6 bulan, akhirnya saya diterima,” papar Riza. Pria kelahiran Jakarta, 16 Februari 1972 ini sepertinya memang menyukai tantangan; tak hanya seleksi ketat yang mesti dihadapinya, bidang pekerjaannya pun relatif berbeda (meski masih berkaitan) dengan yang sebelumnya. Saat ini, Riza mengurusi non-aeronautical management atau bisnis bandara di luar penerbangan, dan membawahi 10 bandar udara sekaligus.

Riza mengaku bahwa pekerjaannya saat ini bukanlah sesuatu yang dia cari, dan malah dia dituntut untuk belajar banyak hal baru. Apakah ini berarti Riza merasa terpaksa menjalani pekerjaan yang tak sesuai passion? Sama sekali tidak. “Passion is created!” tegasnya. Pria yang memiliki life motto ‘Hidup harus selalu hidup’ ini tidak setuju dengan pendapat sebagian besar orang bahwa mencari pekerjaan itu harus mengikuti passion. Menurut Riza hal seperti itu akan menciptakan keterbatasan dan tidak realistis. “Ibaratnya, kita sedang berada di Eropa yang makanan utamanya roti. Daripada kita ngotot mencari nasi karena nggak doyan roti, lebih baik kita belajar untuk menyukai roti—dengan mengoleskan selai atau menambah keju, misalnya,” terang Riza. Lulusan S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia ini juga bilang, menyukai sesuatu yang baru kita temui itu wajib, “cari keindahan di balik itu,” ujarnya.

Bukan asal bicara, pengalaman personal dan profesional Riza membuktikan apa yang dikatakannya. Misalnya saat gagal masuk Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang sangat diincarnya—sampai 3 kali mencoba UMPTN—Riza akhirnya menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi di Universitas Islam Indonesia dan lulus sebagai sarjana dengan predikat Cum Laude. Begitu pula ketika Riza yang berlatarbelakang marketing ‘dijebloskan’ ke bidang service, dia justru mengukir prestasi kerja di bidang tersebut. Kuncinya, menurut Riza, adalah dengan tak pernah berhenti belajar.

Karena tak pernah berhenti belajar pula Riza memiliki segudang aktivitas lain di luar pekerjaan utamanya. Pria friendly tersebut sempat menjadi penyiar radio, menyanyikan jingle iklan, menulis (saat ini tengah menyusun 2 buah buku sekaligus), menjadi fotografer, serta mengajar sebagai dosen tamu. Apakah Riza tidak merasa lelah dengan segala kesibukan ini? “Ibarat mesin pesawat, kalau banyak diistirahatkan malah akan rusak. Makanya, saat saya jenuh harus melakukan sesuatu yang lain atau baru, untuk keluar dari kejenuhan tersebut,” ungkapnya dengan diplomatis.

Meski usia tak lagi belia, dan jadwal aktivitas sangat padat setiap hari, Riza masih tampak begitu bugar. Hal ini merupakan ‘buah’ dari ketekunannya menjalani pola hidup sehat selama bertahun-tahun. “Sudah 9 tahun ini saya makan hanya 1 kali sehari yakni pada siang hari, sementara pagi dan sore saya hanya mengonsumsi pisang ataupun roti dan juga teh hijau,” ujarnya. Pola makan ini dipelajari Riza ketika sempat tinggal di Jepang—yakni dari pengalaman para lansia di sana yang masih kuat duduk bersila selama berjam-jam tanpa keluhan. Selain mengatur pola makan, pria yang hobi membaca ini juga rutin berolahraga: latihan treadmill 2 kali seminggu. Healthy lifestyle lainnya ala Riza? “No dugem, no alcohol, no smoking, no coffee.”

Selain kesehatan tubuh, Riza juga tak melupakan soal kesehatan rambutnya. Itulah sebabnya selama 5 tahun terakhir pria ini setia menggunakan produk sampo dari Erha. Riza mengaku, sebelum mengenal Erha Clinic dan sampo yang kini jadi andalannya tersebut, dia sudah mencoba berbagai macam sampo—dari yang herbal sampai yang modern, dari yang tradisional sampai merek ternama—tapi tak ada yang cocok. Kini, Riza merasa rambutnya telah menemukan ‘jodoh’ yang tepat. Bukan hanya jatuh cinta pada produk samponya, Riza juga menyukai suasana Erha yang premium dan eksklusif. “Ambience enak, selaras dengan image, stafnya terlatih, dan harganya nggak terlalu mahal kok!” paparnya.

Penulis: Sonya Tampubolon/ Photo : Riesma Pawestri