inspirational diary


I Don’t Go With The Flow

01 October 2015

Bona Sardo
Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Sempat ‘menghilang’ beberapa waktu dari dunia hiburan, wajah Bona Sardo mulai muncul kembali belakangan ini di layar kaca dan berbagai panggung pertunjukan—bersama rekan lainnya yang tergabung dalam project: FIRe (First Idol Reunion). Ya, pria bernama lengkap Bona Sardo Hasoloan Hutahaean, M.Psi, Psikolog ini memang sebelumnya dikenal sebagai salah satu penyanyi jebolan Indonesian Idol, serta sempat menjadi presenter di sejumlah acara televisi. Tak disangka-sangka, pria berkacamata kelahiran 17 Januari 1984 tersebut kini memilih jalur akademisi sebagai profesi utamanya, yakni sebagai dosen di Fakultas Psikologi UI.

“Baru tahun ini saya bekerja full-time sebagai dosen Fakultas Psikologi UI. Masuk tiap Senin sampai Jumat, dengan jam kerja layaknya pegawai negeri sipil,” ungkap Bona. Ditanya soal mengapa Bona memilih menjadi PNS ketimbang bekerja di dunia hiburan, pelanggan Erha Clinic Depok tersebut mengungkapkan bahwa dirinya lebih senang dengan sistem kerja yang jelas dan sistematis. “Awalnya sempat terpikir untuk berkarier di dunia hiburan. Saya menikmati menjadi penyanyi dan juga presenter. Hanya saja, saya nggak terlalu suka dengan hingar-bingar dunia hiburan, terutama karena nggak ada kejelasan sistem dan perkembangan karier. Ternyata saya nggak cocok dengan prinsip ‘go with the flow’, saya ingin punya planning terhadap hidup saya,” jelasnya. Karena alasan itu, Bona rela mundur total dari dunia hiburan selama 2 tahun penuh demi melanjutkan studi (Strata 2) dan mengejar cita-citanya menjadi dosen.

Sebagai alumni Fakultas Psikologi UI (kuliah S1 dan S2), tempat tersebut sudah bagaikan rumah kedua bagi Bona—sehingga tak mengherankan kampus tersebut pula yang menjadi sasaran utamanya sebagai tempat bekerja. Akan tetapi meraih cita-cita menjadi dosen UI tak semudah membalikkan telapak tangan bagi pria yang sempat bekerja freelance di sejumlah kampus lain tersebut. Psikolog di RS Mitra Keluarga Depok dan Klinik Terpadu F.Psi UI ini sempat mengalami kegagalan dan tidak diterima menjadi dosen UI. Baru setelah Bona lulus S2 dengan predikat Cum Laude, kepercayaan dirinya mulai bangkit kembali. “Apalagi sejumlah dosen senior turut mendukung dan menyarankan saya coba apply lagi,” ujar pria berdarah Batak tersebut. Tahun 2014 lalu, Bona memberanikan diri untuk ikut tes seleksi CPNS; dan akhirnya lolos sehingga resmi menjadi dosen Fakultas Psikologi UI.

Saat ini, Bona mengaku sangat enjoy menjalani profesi sebagai dosen dan psikolog; dan di saat yang sama tetap bisa mengikuti passion-nya sebagai entertainer. “Nggak terlalu sulit kok mengatur jadwalnya, karena semua aktivitas weekdays (Senin sampai Jumat) berada di lokasi yang berdekatan, semua di area Depok. Aktivitas lain seperti menyanyi, membawakan acara, atau menjadi fasilitator TALKInc biasanya saat weekend,” jelasnya.

Perubahan profesi dari entertainer menjadi pegawai negeri sipil ternyata berpengaruh juga terhadap perubahan gaya hidup Bona. “Pola makan jelas lebih baik, jadwal makan teratur dan bisa mengatur menu makanan supaya lebih sehat juga,” paparnya. Sedangkan untuk urusan kesehatan kulit, pria yang sudah 2 tahun menjadi pelanggan tetap Erha ini mengaku sejak dulu memang termasuk orang yang telaten merawat kulit. “Saya selalu pakai produk perawatan kulit. Dulu sering gonta-ganti produk, sempat pakai produk di pasaran dan ternyata nggak cocok,” ungkapnya. Saat ini, Bona nggak pernah alpa memakai krim pagi, siang, dan malam dari Erha. “Krim siang saya simpan di kulkas kantor. Biasanya setelah makan siang, saya cuci muka dengan facial wash Erha lalu oles krim siangnya. Lumayan kan sekalian menyegarkan diri dan mencegah ngantuk. Hehehe,” papar Bona sambil tertawa.

Selain karena cocok dengan produk-produknya, Bona setia memilih Erha Clinic karena terkesan dengan penanganan kulit pasien secara personal. “Sesuai slogan ‘meet your personal dermatologist’, dokternya benar-benar kenal kondisi dan masalah kulit masing-masing pasiennya,” ujarnya. Hal ini diketahui persis oleh Bona, karena kakaknya juga merupakan pasien Erha. “Kondisi kulit kami berbeda, saya lebih sensitif, dan produk yang diberikan pada kami pun berbeda,” tambahnya lagi. Pelayanan yang cepat, sigap, ramah, dan juga sangat helpful—merupakan hal lain yang membuat Bona terkesan dengan Erha. “Saya paling suka dengan sapaan para staf Erha yang ramah. Ucapan ‘dengan senang hati’ yang biasa mereka lontarkan juga menurut saya sangat bagus dan menyejukkan hati,” tutup Bona.

Penulis: Sonya Tampubolon/ Photo : Riesma Pawestri